Pages

Sabtu, 08 Maret 2014

Mari Bicara about Pacaran!!!!!


Latar Belakang
Tidak bisa dipungkiri bahwa pacaran menjadi hal yang lazim di zaman sekarang. Hampir lucu bahkan jika ada orang yang tidak pernah pacaran, apalagi tidak tahu apa itu pacaran. Setidaknya begitulah keadaannya. Bahkan penulis pernah secara tidak sengaja menemukan stiker di slebor belakang sebuah sepeda motor yang bertuliskan, “saur ema, tong uwih sateuacan kenging pacar” atau dalam bahasa Indonesia, “Kata mama, jangan pulang kalau belum dapat pacar”. Astaghfirullah! Sebegitu rusaknya ummat, dan ini nyata.
***


Empat malam yang lalu, secara tidak sengaja penulis melihat diskusi seru beberapa temen fb yang bicara seputar pacaran. Diawali dari sebuah status yang menceritakan sebuah “kesakit-hatian” seseorang karena ada dua insan berbeda jenis, secara illegal saling memanggil “mamah-papih”, hingga “ummi-abi”. Dalam status tersebut, si pembuat status merasa geram dengan tingkah laku ini. Yang kemudian dia membuat simpulan, bahwa Pacaran Haram. Baik yang konvensional hingga yang berbalut label islami.
Sebagian komentator sepakat, namun ternyata tak semua. Ada seorang komentator yang kemudian mengajak pembuat status agar tidak melakukan simplistic terhadap kasus pacaran. Yang pada intinya, ia ingin mengungkap bahwa kita harus tahu dari mana kesimpulan Pacaran Haram itu didapat. Menurutnya, kita –apalagi pengemban dakwah— tidak boleh bertaklid. Saya rasa ini nasihat yang bagus! Sang komentator inipun kemudian menyatakan bahwa dirinya termasuk yang mengharamkan pacaran, hanya saja –menurutnya— kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang membolehkan pacaran yang islami.
Masih menurut sang komentator, banyak ulama yang membolehkan pacaran. Diantaranya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Hazm, dan ulama’-ulama’ lain (?). Kemudian dia mengungkapkan bagaimana Ibnu Qayyim banyak menggunakan kata “pacaran” didalam kitab beliau yang berjudul, Raudhatul Muhibbiin, yang diterjemahkan dengan judulTaman Orang-orang Jatuh Cinta, terj. Bahrun AI Zubaidi, Lc (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006). Meski kemudian diketahui sang komentator ini ternyata mengcopy paste dari sebuah blog!
Dari sinilah penulis tertarik untuk membuat tulisan mengupas seputar pacaran. Dengan harapan bisa meng-clear-kan permasalahan ini. Bi idznillah, insya Allah!

Definisi dan Fakta Pacaran Secara Umum
Mengetahui definisi dan fakta sebuah bahasan penting, agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan hukum padanya. Karena beda objek, beda hukumnya!
Secara bahasa, pacaran berasal dari kata “pacar” yang mendapatkan imbuhan berupa akhiran “–an”. Kata “pacar” sendiri artinya “teman lawan jenis yang tetap dan mempunya hubungan berdasarkan cinta kasih”. Di dalam kamus Bahasa Indonesia, “Pacaran” sinonim dengan “berpacaran” yang memiliki arti “bercintaan”, “berkasih-kasihan”. Dicontohkan, “kedua remaja itu sudah berpacaran sejak mereka duduk di kelas tiga sekolan menengah tingkat atas.” (KBBI Android 2.1, data kamus dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional)(lihat juga http://www.artikata.com/arti-343151-pacar.html).
Dari sini bisa kita lihat bahwa aktivitas pacaran bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas berkasih-kasihan antara dua lawan jenis yang belum diikat oleh pernikahan. Selain dari definisi ini maka itu bukan pacaran. Misal, berkasih-kasihanan antar suami dan isteri, dan sebagainya tidak bisa diartikan sebagai pacaran. Oleh karena itu pula, penulis sebenarnya tidak sepakat misal dengan slogan “pacaran setelah menikah” karena faktanya berbeda. Kalaupun yang dimaksud adalah sebatas berkasih-kasihan pada suami isteri, selayaknya digunakan tanda baca yang menunjukan itu bukan konotasi yang sebenarnya, dengan mengguanakan tanda kutip misalnya.

Inti Pacaran
Dari definisi diatas, ditambah pengamatan ala kadarnya, penulis mendapati ada beberapa point inti didalam pacaran. Dan ini sangan minimal, artinya ada pacaran yang melebihi point-point ini. Adapun inti pacaran antara lain:

1. Ada serah-terima perasaan
Dua orang layak dikatan saling berpacaran jika ada “ijab-qabul” diantara keduanya. Dalam bahasa sekarang, ada proses “menembak”. Karena jika hal ini tidak ada, maka sulit –untuk tidak mengatakan tidak mungkin— bisa diketahui dua orang saling memiliki perasaan suka. Jika anda pernah menonton film sinetron akan tahu bahwa ini adalah “syarat sah” berpacaran. Ungkapannya bisa secara lisan, seperti “aku cinta kamu”, “maukah jadi pacarku?”, dsb. Dan jika diterima oleh pasangannya akan dibalas dengan ungkapan, “aku juga”, “aku mau jadi pacarmu”, dsb.
Tapi apakah “syarat” ini harus selalu diterima dengan ungkapan lisan? Jawabannya, tidak. Bisa saja seseorang yang ditembak tidak menjawab secara lisan, hanya diam saja misal, namun aktivitasnya lah yang menunjukan dia menerima. Yang pasti, jika keduanya saling suka dan sama-sama mengetahui hal itu, maka akan saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Jika ini telah terjadi, status merekapun “sah” sebagai pacar.
Oleh karena, jika ada seseorang yang mengunkap perasaan sukanya –biasanya oleh sang lelaki— kepada orang lain, namun kemudian ditolak, tidak ada sebutan pacaran bagi keduanya.

2. Ada perhatian khusus
Pacaran tidak cukup sampai saling mengungkapkan perasaan saja. Status pacaran yang telah didapat oleh dua orang lawan jenis akan diikuti oleh saling memberikan perhatian lebih kepada pasangannya. Hal ini dilakukan sebagai bukti untuk menunjukan bahwa pasangannya benar-benar cinta. Dalam aktivitas ini, sang pacar akan dengan teliti “menjaga” pacarnya. Karenanya menjadi hal yang lumrah di dalam pacaran kita dapati orang yang berpacaran menanyakan hal-hal yang remeh temeh dan tidak penting. Misal, sudah mandi, sudah makan, atau bahkan bagi yang berlabel “islami” sang pacar akan bertanya seputar ibadah, seperti sudah shalat apa belum, member nasihat, saling membangunkan tengah malam untuk qiyamul lail dan sahur untuk shaum sunnah, dsb.

3. Komunikasi yang intens
Konskuensi yang logis dari point 2 adalah terjadinya komunikasi yang intens diantara dua orang yang berpacaran. SMS-an dengan pacar yang tak putus selama 24 jam merupakan hal yang lumrah. Meski semua itu dilakukan hanya untuk membicarakan sesuatu yang tak bermanfaat sekalipun.
Saling telponan juga tak bisa dihindari. Sang pacar akan begitu bersemangat dalam mengusahakan punya pulsa. Meski tak makan dua hari, atau harus ngutang kepada temen, akan dilakukan asal tak putus komunikasi dengan pacar. Bicara ngalor ngidul berjam-jam bersama si pacar akan lebih dipilih ketimbang membaca buku pelajaran. Dsb.
Dari sinilah, karena interaksi yang terus menerus, ditambah dengan saling percaya –karena menganggap saling cinta—, komunikasinya menjadi lebih intim. Hingga kemudia hal-hal yang privat adalah biasa dibicarakan. Bahkan, (maaf) hingga bicara ukuran pakain dalampun tak ada yang salah dalam pacaran. Setidaknya ini yang pernah penulis temui. Nastaghfirullah!!!

Menghukumi Pacaran
Sebenarnya tidak terlalu susah untuk mendapati apa hukum dari pacaran jika kita dengan lapang dada mengikuti dalil-dalil syara’ terhadap rincian pacaran. Untuk itu penulis akan sedikit memaparkan bagaimana syari’at bicara rincian aktivitas pacaran. 

1.  Wajib Menjauhi Zina
Allah Maha Mengetahui, termasuk mengetahui tabiat manusia karena Dia lah yang menciptakan manusia beserta potensi di dalamnya, seperti Gharizah dan Kebutuhan Jasmani, serta akal. Allah tahu bahwa zina tidak akan terjadi tanpa ada yang menghantarkannya, seperti berpandangan, berpegangan, berpelukan, dan seterusnya hingga kemudian terjadi zina yang sesungguhnya. Wal iyadzubillah!
Oleh karena itu, dalam sebuah ayat, tepatnya di dalam surah Al Isra’ ayat 32, Allah telah memerintahkan manusia untuk menjauhi zina.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)
Di dalam ayat ini, Allah telah mengharamkan segala perkara yang bisa menghantarkan kepada zina. Yang diperintahkan adalah “jangan mendekati”, artinya segala sesuatu yang “mendekati” zina adalah HARAM untuk dilakukan, atau bisa dipahami WAJIB “menjauhi” zina.
Pacaran bisa dengan sangat jelas kita sadari bahwa ia adalah aktivitas yang bisa menghantarkan kepada zina, atau setidak-tidaknya ia adalah perkara yang mendekati zina. Aktivitas memberi perhatian khusus, bercanda berdua, komunikasi yang intens dan intim, mengumbar kata-kata mesra dengan suara mendayu-dayu hingga jalan-jalan berdua, berpegangan tangan, berpelukan, berboncengan, dan berciuman kesemua ini adalah aktivitas yang mendekati zina, dan semuanya adalah perbuatan maksiyat yang diharamkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, orang yang berpacaran pada hakikatnya telah masuk dalam jaring perangkap syetan. Yang tinggal menunggu waktu saja terserat ke dalam kubangan lumpur hina yang bernama zina.
Rasulpun telah mewanti-wanti bahwa anggota tubuh kita berpotensi melakukan zina. Dalam haditsnya, Rasulullah SAW bersabda bahwa kaki, mata, tangan, dan anggota tubuh lain bisa berzina, hingga pada akhirnya kemaluanlah yang membenarkannya (melakukan zina sebenarnya). Nabi bersabda:
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya dari zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang membenarkan atau mendustakannya.”(HR. Ahmad)
Hal ini dituturkan juga dalam riwayat Imam Bukhari dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun beresensi sama.
"Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir) oleh kelamin atau digagalkannya." (HR Bukhari). 

2. Larangan Berdua-duaan
Banyak sekali hadits-hadits Nabi yang dengan sharih melarang seorang laki-laki untuk ber-khalwat dengan wanita yang bukan mahromnya.
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut karena setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
Penulis merasa tak perlu panjang lebar bicara dalam konteks ini karena hadits-hadits nabi tanpa ada kesamaran dengan tegas melarang berkhalwat atau berdua-dua-an dengan wanita non mahram.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana kalau kita apel ke rumah seorang wanita, dan dirumah itu kita ditemani oleh orang tuanya? Jawaban penulis: inilah rusaknya ummat saat ini. Orang tua banyak tidak mengerti perkara penting ini, hingga akhirnya apel dibiarkan terjadi dirumahnya dan dilakukan dihadapannya. Ingat, kebolehan berdua-duaan asal disertai mahroh bukan dalam konteks yang diharamkan seperti pacaran atau silaturahim niat pacaran, melainkan hanya dalam perkara-perkara yang dibolehkan secara syar’i, seperti ta’aruf, dsb. Jadi, tidak ada alasan untuk tetap berdua-duaan laki-laki non mahrom dengan seorang wanita jika tidak ada alasan yang syar’i. Allahu a’lam! 

3. Wajib Menundukan Pandangan
Seperti di dalam hadits yang telah penulis kutipkan, bahwa mata punya potensi untuk melakukan zina, yakni dengan malihat. Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan setiap orang yang beriman, baik laki-laki ataupun wanita agar menundukan pandangannya.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,.. “ (TQS. An-Nuur: 30-31)
Lihat lah, bagaimana Allah menyandingkan penjagaan terhadap mata dengan penjagaan terhadap kemaluan. Hal ini dikarenakan, perzinahan selalu didahului oleh pandangan mata. Dengan melihat maka manusia akan bangkit gharizahnya. Oleh karena itu, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani di dalam Nidzamul Ijtima’i mengungkapkan bahwa dorongan seksual yang dihasilkan oleh naluri melestarikan keturunan –sebagaimana naluri yang lain— dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, termasuk apa yang kita lihat.
Jika pandangan ini tidak dijaga, maka hati manusia akan timbul keinginan dan khayalan yang menuntut kepuasan. Apabila ini terus menerus ada tanpa diredam, pada akhirnya zina akan berpeluang besar dipilih untuk memenuhi dorongan seksualnya itu. Na’udzubillah!
Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman yang artinya, 'Penglihatan (melihat wanita) itu sebagai panah iblis yang sangat beracun, maka siapa mengelakkan (meninggalkannya) karena takut pada-Ku, maka Aku menggantikannya dengan iman yang dapat dirasakan manisnya dalam hatinya." (HR. Tabrani)
Rasulullah SAW berpesan kepada Ali bin Abi Thalib ra yang artinya:
"Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).
4. Perintah Menika Jika telah Mampu
Dalam sebuah hadist yang sudah popular, Rasulullah telah menghimbau kepada para pemuda yang mampu agar menikah, namun jika belum mampu maka pilihannya adalah berpuasa agar bisa menahan gejolak gharizah. Sabda Nabi:
"Hai para pemuda, siapa saja di antara kamu yang mampu untuk kawin, maka hendaklah ia kawin, karena kawin itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi siapa yang tidak mampu kawin maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat mengurangi syahwat." (HR. Bukhari – Muslim)
Perhatikan hadits ini baik-baik! Menikah adalah solusi yang diperintahkan Nabi kepada para pemuda yang memiliki syahwat, dengan catatan ia telah mampu. Mampu secara fisik, materi, hingga mental –ukuran mampu bisa saja berbeda pada setiap orang. Adapun jika tidak mampu, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan diri dengan barpuasa. Dan tidak ada pilihan lain selain menikah atau puasa (menahan diri). Tidak ada pilihan pacaran, tidak ada pilihan TTM (Teman Tapi Mesra), apalagi pilihan berzina jelas tidak mungkin ada.

Khatimah: Pacaran Hukumnya Haram!
Dari semua uraian ini, tidak ada celah sedikitpun bagi “halal”nya pacaran. Dengan memperhatikan rincian pacaran, dan hukum syara’ berkaitan dengan rincian dari aktivitas pacaran, maka kesimpulannya bisa kita dapati bahwa semuanya bertentangan dengan syari’at, sehingga pacaran –baik yang konvensional hingga yang berlabel islami— juga bertentangan dengan syari’at. Artinya HARAM bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul, serta hari akhir untuk berpacaran.
Ingatlah, iman kita menuntut kita untuk tunduk kepada ketentuan yang telah diturunkan oleh Allah SWT, hal ini agar bisa mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. An-Nuur: 51)
Sebaliknya, bagi yang melalaikan peringatan Allah dan Rasul-Nya serta memperturutkan hawa nafsunya maka sungguh diakhirat akan dihimpun dalam keadaan buta, siksa neraka yang amat pedih telah menunggunya, dan di dunia hanya akan mendapatkan kehidupan yang sempit.
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada harikiamat dalam keadaan buta.” (TQS. Thaha: 124)
Inilah hidup, dan hidup adalah pilihan. Pilihan ada ditangan masing-masing kita. Jangan lupa bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya, sehingga berhati-hatilah dalam memilih pilihan. Tentu saja, hanya orang waras yang akan memilih mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allahu Akbar!

Senin, 24 Februari 2014

Indahnya ada Orang Tua, Kakak, Teman, Sahabat, Saudara se Akidah Islam

Saat berbuka shaum bareng di Ayam Solo with sahabat super camp

Wisuda Kakaku @IM telkom

Perpisahan SMK Negeri 3 Baleendah Bandung

Beasiswa Unggulan 2010 UNIKOM

Keluarga Pesantren Mifkho acara pemilihan rois@the lodge lembang

Keluarga LDK @ Curug Omas

makan bakso @punclut

persiapan tampil marawis di polman

kelurga mifkho

@bougenvile lembang

Kedua Orangtua Tercinta

temen-temen SMK with Cicie n Fera

acara muharroman dan haul di pesantren

kiriman dari cicie di korea selatan,, makasih ya

Pelatihan Character Building @Secapa AD Lembang

Jumat, 21 Februari 2014

Pejuang Malas ... Oh Tidak!!!!


Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:
  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe ;)
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja mereka malas.
  6. Bahkan bertanya “berkas lamaran dikirim ke mana ya?” Seakan itu sandi rahasia yg tabu ditulis di buku panduan.
  7. Menyangka topik penelitian didapat dengan bertanya “tema tesis yg bagus apa ya?” bukan dari membaca penelitian yang sudah ada.
  8. Latihan essay IELTS 250 kata malas sekali tetapi ngetwit nyinyir pada orang bisa dari sore sampe subuh @dipataruno.
  9. Lupa satu hal penting: jika beasiswa bisa didapat dengan cara yang dipakai mereka, berarti semua orang bisa dapat beasiswa.
  10. Lupa pertanyaan renungan pejuang beasiswa: “Apa bedanya perjuangan saya dengan pejuang lain dan mengapa saya yang harus terpilih?”
  11. Merasa kursus TOEFL dua juta mahal banget tapi selalu semangat ganti HP baru.
  12. Merasa buku IELTS/TOEFL mahal dan lebih baik pinjem sementara tetap kenceng merokok atau rajin ke salon.
  13. Semangat gonta ganti lensa kamera tapi selalu berharap dapat buku petunjuk beasiswa tanpa membeli.
  14. Bangga membeli tas baru bermerek tapi tidak merasa bersalah membaca buku TOEFL hasil fotokopian.
  15. Malu pakai jam tangan imitasi tapi merasa keren bisa download buku TOEFL/IELTS secara ilegal.
Anda tentu tidak memenuhi kriteria di atas karena Anda adalah pejuang hebat. Jika ada orang yang seperti demikian, katakan pada mereka “lupakan soal beasiswa luar negeri karena kamu pejuang malas!”

Rabu, 22 Januari 2014

Banjir Ajang Muhasabah Diri Untuk Diri Sendiri & Negara

Bencana alam dalam sebuah kehidupan berbeda-beda seperti banjir, tsunami, angin topan, longsor, gempa bumi, gunung meletus dan lain-lain. Bencana alam adalah  suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia. Bencana alam ada yang alami dan juga sebaliknya, bahkan dalam kalimat lain mengatakan bencana alam bisa  di akibatkan oleh perbuatan manusia sendiri atau tidak azab yang di berikan oleh Allah SWT kepada umatnya.

Siapa yang mau kalau terkena bencana alam dan dampaknya bagi  rumah, kendaraan, materi semuanya akan hilang, tapi kita harus menerima kenyataan apa yang akan di rencanakan oleh Allah SWT. Sewaktu kecil saya masih menginjak sekolah dasar dimana saya diajarkan untuk belajar tidak membuang sampah sembarangan dimanapun kita berada, begitu pula dengan negara harus tegas terhadap sampah yang di buang oleh masyarakat, coba jika bercermin kepada negara singapura, orang  yang membuang sampah langsung di denda bahkan di penjara... 

Di negara kita negara Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, sekarang habis di ambil negara-negara asing, pohon di tebang dalam artian tidak ada izin oleh pemerintah dan apa akibatnya Banjir dimana-dimana
bulan januari 2014 banyak terjadi banjir diantaranya di pamanukan subang jawa barat, dimana ada 15 ribu rumah warga 12 kecamatan terendam banjir. bayangkan 15 ribu, bayangkan juga kalau rumah kita yang terkena banjir, semua akses disana baik jalan dan apapun terhambat, makanan kurang, air bersih jarang bahkan ada 2 orang pengungsi yang meninggal akibat kedinginan. sungguh ironis melihat banjir di subang, di susul banjir parah di manado yang banyak rumah terendam, jakarta dan lain-lain.

Mari saudara-saudara, kita bermuhasabah diri atas kejadian banjir yang menimpa saudara-saudara kita, begitu pula kejadian ini muhasabah bagi negara serta jangan lupa berdo'a,,, 



Semoga di beri kesabaran yang terkena musibah banjir .. ^^

Sabtu, 04 Januari 2014

Jemput Bahagiamu dengan selesaikan SkripsiMu

Pernahkah sahabat semua mendengar atau tahu kata  yang awalnya hurufnya "S" dan diakhiri dengan huruf "I".. ayo apa coba tebak??? yupzzz, pasti sahabat semua tebakkannya bermacam-macam, ok deh langsung saja ya, yang saya maksud adalah kata "SKRIPSI"...
Semangat Karena Allah
what's?? skripsi?? what is it??? well, skripsi adalah  istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku. Biasanya juga skripsi adalah sesuatu yang sangat dicemaskan oleh mahasiswa/i semester akhir, katanya takut tidak lulus, takut sidangnya tidak bisa dan lain-lain.

Begitu juga dengan saya yang sekarang sudah semester akhir, di mana tahun 2014 adalah saatnya saya untuk LULUS di Universitas swasta terbaik di indonesia, hhehehe. Awalnya  saya mau menyusun di tahun 2013, karena kuliah sudah beres, tapi berhubung belum semangat dan banyak cobaan yang menghadang seperti malas, kerja, etc bahkan di tahun 2013 hanya berbekal bab niat saja, heheheh

Tapi mumpung masih di bulan januari 2014, cobaan itupun mulai di minimalisir sedikit-sedikit karena tahun ini saya harus lulus, lulus dengan lulusan terbaik. well, mau tahu bagaimana cara menimalisir cobaan yang menghadang untuk skripsi kita, yu lihat tipsnya, ini tips dari saya langsung lho, yang insya allah saya jalankan hehehehehe : 

1. Niat
   Mengapa Niat  jadi no pertama?? yupz betul, kalau tidak ada niat yang kuat awal kita mengerjakan skripsi bisa jadi kita dalam proses mengerjakannya tidak akan selesai, bahkan kita tidak akan lulus,, mau lulusnya jadi 5 tahun.. ihhhh gak mau ah 

2. Buat Schedule 
     that's right yang kedua adalah buat jadwal, dimana dalam satu hari kita harus menyisakan waktu untuk mengerjakan skripsi, jangan sampai dalam seharian kita tidak mengerjakan skripsi, hanya untuk hang out saja sahabat-sahbat itu tidak baik bagi yang lagi skripsi, so buat jadwal dan waktu yang pas untuk mengerjakannya, dan kalau bisa selalu di bawa every day jadwal tersebut, baik ke kampus, ke mall, bahkan buat reminder juga di media seperti HP, atau juga Di FB, Twitter, Linkedin statusnya yang berhubungan dengan skripsi biar lebih semangat gitu,, huu

3. Your dreams
     mungkin sahabat-sahabat punya tujuan harus lulus tahun ini, apakah mau lanjut S2, mau berwirausaha bahkan mau nikah,, heheh bisa jadi, begitu pula dengan saya, yang punya tujuan kuat untuk bisa lanjut S2 di luar negeri sesegara mungkin, karena kenapa... karena itu yang paling menguatkan saya untuk mengerjakan skripsi, kalau tidak ada itu saya jadi malas mengerjakan skripsi. 



4. Minta Restu Orang Tua dan Berdo'a
    ini juga paling penting minta restu orang tua dan berdo'a, karena untuk melancarkan kita dalam menyelesaikan skripsi dan lancar dalam persidangan.

Yupz.. itu tipsnya sahabat-sahabat, semoga bisa bermanfaat dan dapat mempraktekannya, atau sahabat punya tips lain silahkan di tunggu Sharenya yaaa..



"Semoga kita cepat lulus, tercapai impiannya, dan mampu menaklukan SKRIPSI, semangat karena Allah" 


Follow Me @erwinyudiansyah

Senin, 30 Desember 2013

Dewa Matahari di Perayaan Tahun Baru & Pandangan Islam


Setiap akhir tahun biasanya semua manusia di dunia ini tidak terkecuali kaum Muslim mengalami wabah penyakit yang luar biasa, pengidap penyakit ini biasanya menjadi suka menghamburkan harta untuk berhura-hura, euforia yang berlebihan, pesta pora dengan makanan yang mewah, minum-minum semalam penuh, lalu mendadak ngitung (3.., 2.., 1.. Dar Der Dor!).

Wabah itu bukan flu burung, bukan juga kelaparan, tapi wabah penyakit akhir tahun yang kita biasa sebut dengan tradisi perayaan tahun baruan. Kaum muda pun tak ketinggalan merayakan tradisi ini. Kalo yang udah punya gandengan merayakan dengan jalan-jalan konvoi keliling kota, pesta di restoran, kafe, warung (emang ada ya?)

Kalo yang jomblo yaa.. tiup terompet, baik terompet milik sendiri ataupun minjem (bagi yang nggak punya duit). Kalo yang kismin, ya minimal jalan-jalan naik truk bak sapi lah, sambil teriak-teriak nggak jelas.
Dan bagi kaum adam yang normal menurut pandangan jaman ini, kesemua perayaan itu tidaklah lengkap tanpa kehadiran kaum hawa. Karena seperti kata iklan “nggak ada cewe, nggak rame”

Bahkan di kota-kota besar, tak jarang setelah menunggu semalaman pergantian tahun itu mereka mengakhirinya dengan perbuatan-perbuatan terlarang di hotel atau motel terdekat.

Yah itulah sedikit cuplikan fakta yang sering kita lihat, dengar, dan rasakan menjelang malam-malam pergantian tahun. Ini dialami oleh kaum muslimin, khususnya para anak muda yang memang banyak sekali warna dan gejolaknya. Nah, sebagai pemuda-pemudi muslim yang cerdas, agar kita nggak salah langkah di tahun baruan ini, maka kita harus menyimak gimana seharusnya kita menyikapi momen yang satu ini.

Asal muasal tahun baruan

Awal muasal tahun baru 1 Januari jelas dari praktik penyembahan kepada dewa matahari kaum Romawi. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.

Sebagaimana yang kita ketahui, Romawi yang terletak di bagian bumi sebelah utara mengalami 4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains masa kini yang juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.

Sepanjang bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bahagian selatan khatulistiwa sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik tterjauh matahari adalah pada tanggal 21-22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik kembali ketika tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar-benar terasa sekitar 6  hari kemudian.

Karena itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa Matahari (Sol Invictus) pada tanggal 25 Desember sampai tanggal 1-5  Januari yaitu Perayaan Tahun Baru (Matahari Baru)
seasons
Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu kebinatangan diumbar disana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.

Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.

Bahkan untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus)]


Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun Baru

’Ala kulli hal, yang ingin kita sampaikan disini adalah bahwa ’Perayaan Tahun Baru’ dan derivatnya bukanlah berasal dari Islam. Bahkan berasal dari praktek pagan Romawi yang dilanjutkan menjadi perayaan dalam Kristen. Dan mengikuti serta merayakan Tahun baru adalah suatu keharaman di dalam Islam.
Dari segi budaya dan gaya hidup, perayaan tahun baruan pada hakikatnya adalah senjata kaum kafir imperialis dalam menyerang kaum muslim untuk menyebarkan ideologi setan yang senantiasa mereka emban yaitu sekularisme dan pemikiran-pemikiran turunannya seperti pluralisme, hedonisme-permisivisme dan konsumerisme untuk merusak kaum muslim, sekaligus menjadi alat untuk mengeruk keuntungan besar bagi kaum kapitalis.

Serangan-serangan pemikiran yang dilakukan barat ini dimaksudkan sedikitnya pada 3 hal yaitu (1) menjauhkan kaum muslim dari pemikiran, perasaan dan budaya serta gaya hidup yang Islami, (2) mengalihkan perhatian kaum muslim atas penderitaan dan kedzaliman yang terjadi pada diri mereka, dan (3) menjadikan barat sebagai kiblat budaya kaum muslimin khususnya para pemuda.
Ketiga hal tersebut jelas terlihat pada perayaan tahun baru yang dirayakan dan dibuat lebih megah dan lebih besar daripada hari raya kaum muslimin sendiri. Tradisi barat merayakan tahun baru dengan berpesta pora, berhura-hura diimpor dan diikuti oleh restoran, kafe, stasiun televisi dan pemerintah untuk mangajarkan kaum muslimin perilaku hedonisme-permisivisme dan konsumerisme.

Kaum muslim dibuat bersenang-senang agar mereka lupa terhadap penderitaan dan penyiksaan yang terjadi atas saudara-saudara mereka sesama muslim. Dan lewat tahun baruan ini pula disiarkan dan dipropagandakan secara intensif budaya barat yang harus diikuti seperti pesta kembang api, pesta minum minuman keras serta film-film barat bernuansa persuasif di televisi.
Semua hal tersebut dilakukan dengan bungkus yang cantik sehingga kaum muslimin kebanyakan pun tertipu dan tanpa sadar mengikuti budaya barat yang jauh dari ajaran Islam. Anggapan bahwa tahun baru adalah “hari raya baru” milik kaum muslim pun telah wajar dan membebek budaya barat pun dianggap lumrah.

”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim)

Walhasil, kaum secara i’tiqadi dan secara logika seorang muslim tidak layak larut dan sibuk dalam perayaan haram tahun baruan yang menjadi sarana mengarahkan budaya kaum muslim untuk mengekor kepada barat dan juga membuat kaum muslimin melupakan masalah-masalah yang terjadi pada mereka.
Dan hal ini juga termasuk mengucapkan selamat Tahun Baru, menyibukkan diri dalam perayaan tahun baru, meniup terompet, dan hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan orang-orang kafir.

Wallahua’lam
akhukum, Felix Siauw
follow  on twitter @felixsiauw

Rabu, 25 Desember 2013

Gelombang Pertama Perjuangan Khilafah di Indonesia

Sesungguhnya perjuangan penegakan Khilafah Islamiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah besar bangsa Indonesia. Penelusuran sumber-sumber sejarah yang ada menunjukkan bahwa segera setelah keruntuhan Khilafah Turki Usmani, sejumlah besar tokoh pergerakan beserta ummat Islam turut terlibat dalam perjuangan penegakan kembali Khilafah Islam. Sebut saja H.O.S. Tjokroaminoto, K.H. Agus Salim, K.H. Fakhrudin dan K.H. Mas Mansur. Mereka bukan sekadar pahlawan nasional, Lebih dari itu, mereka adalah aktor penting perjuangan Khilafah kala itu.
Pemberangkatan H.O.S Tjokroaminoto ke Kongres di Mekkah 1926, salah satu agendanya adalah hendak membicarakan perjuangan Khilafah dengan umat Islam seduniaPemberangkatan H.O.S Tjokroaminoto ke Kongres di Mekkah 1926
 
Meskipun cukup singkat dan segera lenyap tergerus arus perjuangan nasionalisme, fakta sejarah ini harus diungkap supaya tidak ada missing link dalam sejarah perjalanan bangsa. Adalah hak seluruh anak bangsa untuk memahami sejarah perjuangan pendahulunya secara utuh tanpa ada yang disembunyikan. Dengan demikian, kita dapat memetik pelajaran berharga sebagai bekal untuk menjalani kehidupan saat ini.
Perjuangan Khilafah 1924-1927
Eksistensi sejarah umat Islam Indonesia dalam memperjuangkan khilafah telah diamini oleh para sejarawan Indonesia maupun Barat. Diantaranya adalah apa yang dinyatakan oleh Prof. Deliar Noer, Prof. Aqib Suminto, dan Martin van Bruinessen dalam tulisan akademis mereka.
Deliar Noer dalam disertasinya, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 (Cornell University, 1962), menyatakan bahwa umat Islam di Indonesia tidak hanya berminat dalam masalah khilafah, tetapi juga merasa berkewajiban memperbincangkan dan mencari penyelesaiannya. Lalu Aqib Suminto dalam disertasinya, Politik Islam Hindia Belanda (IAIN Jakarta, 1985), menuturkan tentang pengaruh Pan-Islamisme di Indonesia dalam perjuangan khilafah saat itu. Dia menyatakan ada kaitan yang erat antara paham Pan-Islamisme dan jabatan Khalifah karena Khalifah merupakan simbol persatuan ummat Islam di seluruh belahan dunia.
Hal senada juga diungkapkan oleh seorang orientalis Belanda, Martin van Bruinessen, dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul Muslim of Dutch East Indies and The Caliphate Question (Studia Islamika, 1995). Peristiwa penghapusan Turki Usmani yang kemudian disusul seruan ulama al-Azhar untuk memilih khalifah baru, dan penaklukan Hijaz oleh Ibn Sa’ud, mendapatkan antusiasme yang sangat besar dari umat Islam Indonesia sehingga menimbulkan pergerakan yang masif di Indonesia. Menurut arsip Pemerintah Kerajaan Belanda, seperti dikutip van Bruinessen, hal itu bahkan dianggap sebagai “sebuah tonggak bersejarah dalam pergerakan umat Islam di negeri ini”.
Selanjutnya penulis juga telah melakukan penelitian sejarah dengan basis akademik yang ketat mengenai perjuangan khilafah saat itu dengan judul penelitian Peran Surat Kabar Bandera Islam dalam Perjuangan Khilafah 1924-1927 (UI, 2013). Penulis berusaha melengkapi penelitian-penelitian yang telah ada dengan cara melakukan penelusuran langsung sumber-sumber sejarah yang otentik, baik sumber primer maupun sekunder. Salah satu sumber otentik yang ditemukan sekaligus menjadi obyek penelitian adalah sebuah surat kabar yang terbit pada tahun 1924 hingga 1927 yang bernama Bandera Islam
Surat Kabar Bandera Islam edisi  "Chilaafat" Kamis 25 Desember 1924
 
Surat kabar yang sampai sekarang masih tersimpan dalam kondisi baik ini diterbitkan oleh Sarekat Islam: salah satu organisasi yang memperjuangkan Khilafah saat itu. Dahulu surat kabar ini digunakan oleh Sarekat Islam sebagai media propaganda dalam perjuangan khilafah. Oleh karena itu, Bendera Islam banyak memuat rekam jejak potret perjuangan khilafah pada masa itu. Dengan menilik kembali surat kabar Bendera Islam, kita dapat memahami antusiasme perjuangan khilafah di Indonesia pada masa itu.
Setelah penulis menelusuri dinamika umat Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20, terlihat bahwa perjuangan khilafah merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Tidak lama setelah Khilafah Turki Usmani diruntuhkan, sejumlah besar dari bangsa Indonesia yang terdiri dari para ulama, tokoh pergerakan Islam, serta elemen ummat Islam lainnya terlibat dalam perjuangan ini. Mereka merasa berkewajiban untuk memperbincangkan dan mencari penyelesaian dalam rangka membentuk khilafah baru.
Pada Desember 1924 di Surabaya diadakan sebuah pertemuan yang dikenal dengan Kongres Al-Islam Luar Biasa. Kongres ini memang sangat luar biasa karena dihadiri oleh 68 organisasi Islam yang mewakili pusat maupun cabang juga dihadiri ulama-ulama dan ribuan umat Islam yang lain. Mereka yang hadir menyepakati sebuah rumusan khilafah yang baru. Rumusan tersebut yakni:
1. Agar dibentuk suatu Majelis Khilafah yang melaksanakan kekuasaan dan kewajiban khalifah atas dasar hukum-hukum Qur’an dan Hadits
2. Kepala Majelis mengatur, menjaga, dan mengupayakan terlaksananya keputusan-keputusan Majelis
3. Kepala Majelis dipilih oleh Majelis berdasrkan Syari’ah yang disetujui atasnya dalam permusyawaratan khilafah kemudian pemilihan tersebut diumumkan agar mendapat pengakuan dari seluruh umat Islam di dunia
4. Majelis Khilafah mengupayakan persamaan paham dan peraturan bagi segala perkara hukum Islam
5. Majelis Khilafah hendaklah berada di Mekkah
6. Tentang biaya untuk Majelis Khilafah bersama-sama perlu ditemukan kesepakatan dengan umat Islam yang lain atas hal ini.
Sikap mereka ini tidak terlepas dari pengaruh Pan-Islamisme. Cita-cita persatuan Islam dalam satu pemerintahan Islam yang merdeka menjadi sebuah harapan besar bagi mereka yang saat itu hidup dibawah penjajahan bangsa asing dan kafir. Untuk beberapa waktu cita-cita internasional ini masih tetap bertahan hingga kemudian mereka melupakannya dan mengalihkan perhatian mereka kepada cita-cita nasionalisme yakni menuju negara bangsa yang merdeka.
Sejak saat itu perjuangan khilafah berangsur-angsur hilang tergantikan oleh perjuangan nasionalisme. Dilupakannya persoalan khilafah oleh ummat Islam Indonesia dikarenakan terjadinya perubahan orientasi perjuangan sejumlah pergerakan pada masa itu. NU, Muhammadiyyah, dan Al-Irsyad lebih memfokus perjuangan mereka ke bidang sosial dan pendidikan. Selain itu, perselisihan paham yang telah lama terjadi di antara kelompok pembaharu yang diwakili Muhamadiyyah dan Al-Irsyad, dengan kelompok tradisional (NU), kian meruncing sehingga persoalan khilafah yang semula menjadi perjuangan bersama pada akhirnya ditinggalkan.
Penyebab yang lain, Sarekat Islam yang paling konsen dalam menjaga persatuan umat Islam di Indonesia sudah tidak berkharisma lagi dihadapan umat Islam yang lain setelah Sarekat Islam justru ikut terjerat dalam perselisihan internal umat Islam. Sejak saat itu perjuangan Sarekat Islam sudah tidak lagi mewakili aspirasi politik umat Islam di Indonesia. Mereka juga tidak bisa lagi mengklaim sebagai pelopor gerakan nasional setelah ada PNI yang menggantikan posisi mereka dengan gagasan nasionalismenya. Selain itu sokongan dunia Islam terhadap persoalan khilafah yang menghilang, akibat konspirasi Barat, mengakibatkan Sarekat Islam meninggalkan perjuangan khilafah dan mengalihkannya pada perjuangan Islam dalam konteks kebangsaan. Maka sejak saat itulah perjuangan khilafah tidak terdengar lagi di Indonesia hingga kemudian muncul pada saat ini gelombang kedua perjuangan khilafah di Indonesia.
Penutup
Bendera Islam menjadi bukti sejarah bahwa perjuangan penegakan Khilafah Islam di Indonesia telah dimulai sejak awal keruntuhan Khilafah Turki Utsmani meski perjuangan itu belum membuahkan hasil yang dicita-citakan hingga detik ini. Pergerakan-pergerakan yang memperjuangkannya telah menemui kegagalan. Sejarah kegagalan ini seyogianya menjadi pelajaran bagi umat Islam di Indonesia. Terutama menjadi bahan evaluasi bagi mereka yang terlibat dalam gelombang perjuangan penegakan khilafah hari ini. Dengan begitu agar tidak mengulang kembali kegagalan perjuangan khilafah di Indonesia